Categories
Agraria

Arief Daryanto: Keluarlah dari Paradigma Komoditas

Demikian optimisme Arief Daryan to, pendiri, direktur, dan kini do sen senior Sekolah Bisnis dan Pro gram Pascasarjana Manajemen dan Bisnis IPB, Bogor, tentang masa depan agribisnis In donesia 2018. Banyak hal diungkap kan nya dalam perbincangan dengan Peni Sari Palupi dan Selo Sumarsono dari AGRINA, mulai dari evaluasi kondisi agri bisnis sepanjang 2017, kebijakan peme rin tah terkait komoditas pertanian, hingga apa yang mesti dilakukan para pelaku usaha untuk memenangkan persaingan.

Berikut petikan wawancara dengan pe me gang gelar Ph.D. dari School of Eco no mics Studies, University of New England, Armidale, Australia dan tengah mendapat kehormatan sebagai Adjunct Professor di Business School almamaternya itu, di kantornya penghujung Desember silam.

Bagaimana evaluasi Anda tentang agribisnis Indonesia 2017?

Sekarang ini ada moratorium data (dua tahun terakhir Badan Pusat Statistik tidak mengeluarkan data produksi komoditas pertanian, khususnya padi, jagung, dan kedelai, Red.). Kami para agricultural eco no mist melihat paradoks.

Dikatakan kita berswasembada beras, tapi kenapa harga tinggi? Kalau jagung berlimpah, maka harga jagung (pipilan) tidak Rp3.800, tapi sekitar Rp3.200/kg. Memang, pembaruan data penting supaya kita tidak terjebak dalam diskusi ini terus menerus. Kalau dilihat kondisi 2017, terkait penja ga an inflasi, upaya pemerintah tercapai, walau pun dengan menimbulkan kega duh an.

Tiba-tiba harga beras naik tinggi ka rena produksinya memang tidak tinggi. Harga gabah sampai mencapai Rp6.000/ kg. Harga beras medium Rp11.000/kg, se mentara harga beras premium dipatok se gitu (Rp12.800/kg untuk Jawa, Lampung, Sumatera Selatan), mana ada insentif un tuk mengolah? Itu semata political driven. Sayang prestasi pemerintah tersebut belum tertransmisikan ke kesejahteraan petani. Nilai Tukar Petani (NTP) berge raknya tidak signifikan.

Kalau kita lihat proporsi penduduk miskin tidak bergerak juga, kalau pun bergerak naik, cuma sedikit. Lalu, gini ra tio (ukuran ketimpang an ekonomi) juga tidak terlalu banyak bergerak. Menurun sedikit.

Apa saja yang Anda lihat?

Saat ini stok komodi tas dunia banyak. Harga minyak rendah, jadi kon versi dari minyak fosil ke biofuel juga rendah. Harga komoditas pertanian se dikit meningkat. Dalam konteks seperti ini Indonesia harus bergerak dari komoditas ke nilai tambah (value addition). Misalnya kopi, kita masih banyak ekspor dalam ben tuk biji hijau yang murah.

Coba dija di kan bubuk dengan branding. Di Star buck dengan sertifikat IG (Indikasi Geo grafis) Flores atau Bajawa, value-nya bisa meningkat 100 kali lipat. Kita juga banyak jual sawit, cokelat, dan karet dalam bentuk bahan baku. Ekspor CPO (minyak sawit mentah) nomor satu di dunia, tapi ketika dihitung value addi tion-nya kalah dengan Malaysia.

Berdasar kan nilainya, 95% masih dari CPO. Se dangkan olein, turunan lain biofuel, oleo kemikal kurang dari 5%. Strategi hilirisasi kita sudah tepat untuk meningkatkan ni lai tambah, diekspor dalam bentuk semi proses atau further derivative. Jadi keluar lah dari paradigma komoditas, harus ke produk.

Sekarang ini daya beli masyarakat me ningkat. Dengan daya beli meningkat, orang akan meninggalkan staple food yang berbasis karbohidrat menuju komo ditas bernilai tinggi. Apa itu? Sayur-ma yur, buah-buahan, susu, telur, daging, ikan.

Di semua negara terjadi shifting se per ti itu. Karena itu perlu upaya pening katan nilai tambah, selain perpindahan fokus dari makanan pokok berbasis kar bohidrat menuju komoditas yang bernilai tinggi (high values commodities). Jadi, kalau anggaran kita difokuskan ke pajale (padi, jagung, kedelai), tidak shif ting, ketika permintaan meningkat, kapa sitas produksi kita terbatas, akan terjadi impor yang luar biasa.

Impor hortikultura semakin pesat. Impor susu kita semakin besar. Impor daging kita juga semakin be sar. Harus ada upaya subsitusi impor. Pro duksi dalam negeri harus dikembangkan sesuai kebutuhan masyarakat.

Bagaimana tren konsumsi pangan masyarakat?

Jumlah penduduk kita 259 juta jiwa merupakan pasar domestik yang selalu tumbuh. Mereka mengalami pergeseran pola makan, cenderung westernisasi atau kebarat-baratan. Dulu di sepanjang Jalan Pajajaran (dekat Sekolah Bisnis IPB) hanya ada traditional food. Sekarang ada resto ran Midori, Hanamasa (Jepang), Pizza Hut, KFC dan masakan Korea.

Atribut permintaan pun bergeser ke rea dy to eat (siap makan) dan ready to cook (siap masak). Segmen industri pengolah an tumbuh pesat banget lho, di atas 20%. Contoh ayam. Dulu hanya jual ayam hi dup, sekarang ada karkas dingin dan olah an dengan porsi masih 15%. Kita lihat out let Prima Freshmart dan Quick Chicken di mana-mana karena menawarkan produk siap masak dan siap saji.

Ke depan yang 15% tadi bisa meningkat menjadi 20%. Yang 85% berkurang jadi 80%, 70% dan seterusnya. Bisa-bisa nanti ke depan pemerintah melarang perda gang an ayam hidup untuk mencegah pe nularan penyakit zoonosis seperti negaranegara maju.

Bagaimana prospek agribisnis tahun ini?

Perekonomian nasional akan tumbuh 5,2%-5,4%. Meskipun tidak semua per tum buhan ekonomi tertransmisikan ke per tumbuhan permintaan tapi tergan tung elastisitas pendapatan, agribisnis tetap akan tumbuh dan berkembang. Hanya saja komposisi produk pertanian yang ditawarkan harus berbeda.

Tahun 2018 ada Asian Games, demand akan meningkat pesat. Semua atlet dan penonton membutuhkan makanan. Lalu tahun politik, ekonom selalu bilang an cam an ekonomi tahun politik. Saya kira, itu bisa menjadi berkah karena kampanye bersama membutuhkan nasi kotak, ma kanan segala macam, itu kan sumber permintaan. Dari sisi luar, ekonomi global menggeliat dari 3,2% menjadi 3,6% pada 2017.

Amerika dengan Presiden Trump yang kebi ja kan nya cenderung Ame rica First, mem buat nilai tukar US$ naik, rupiah melemah. Kalau rupiah melemah, ekspor komo ditas tradisional kita lebih bersaing. Ekono mi kita juga terpengaruh “batuk” Tiongkok, kini Tiongkok pun tum buh tinggi karena permintaan domestik. Indeks daya saing kita naik 5 peringkat.

Ease of Doing Business kita naik 19 pe ringkat. Orang luar memandang ekonomi Indonesia sangat prospektif sehingga investasi asing langsung (FDI) naik terus. Ini menjadi momentum yang memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional.

Apa yang perlu dilakukan pelaku usaha agribisnis?

Yang jelas, harus ada cara pandang baru. Peternak unggas misalnya mau tidak mau harus meningkatkan produktivitas, efi siensi, dan kualitas produk. Caranya dengan berpindah dari kandang terbuka ke kandang tertutup atau dari kandang terbuka ke semi tertutup. Atau tetap kandang terbuka tetapi sirkulasi udaranya di perbaiki. Kualitas pakan harus lebih baik.

Peternak skala kecil sebaiknya melaku kan horizontal integration dengan sesama nya supaya mencapai skala ekonomi. Sekarang ini masih sendirisendiri sehingga biaya pokok produksi jadi tinggi. Selain perbaikan kandang dan manajemen ternak, sertai pula dengan upaya peningkatan nilai tambah di sepanjang rantai nilai, kalau perlu branding. Ini yang selama ini kurang dipikirkan, hanya bicara live bird.

Setelah itu, merambah ke food safety, biosecurity, animal welfare untuk meningkatkan daya saing dan daya tahan,. Berpikirlah beyond farming, yaitu processing dan customers. Kawan-kawan di industri unggas perlu memodernisasi industri protein hewani. Mau tidak mau harus masuk ke modern value chain karena konsumen yang pendapatannya meningkat, pasti belanja ke supermarket, hypermarket, yang sehat dan bersih.

Contoh Asep Saeful, pemilik CV Jambu Raya, itu sukses karena mau berubah menggunakan teknologi. Perusahaan juga harus mulai berpikir meningkatkan skala usaha yang lebih besar agar lebih efisien dengan kon soli dasi, integrasi vertikal untuk mening katkan efisiensi dan produktivitas. Itu untuk mengelola value addition di sepanjang rantai nilai secara lebih baik.

Semua aktor harus ditingkatkan ketram pilannya. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mesti lebih memahami karakteristik ekonomi pertanian dan ber hati-hati dalam bertindak agar tidak mengganggu iklim usaha. Selain modernisasi cold chain marketing system tadi, dalam era disruption economy, kata-kata pentingnya adalah pe ningkatan produktivitas, efisiensi, kua litas, dan kalau di luar negeri masuk ke keberlanjutan.