Categories
Agraria

Bertani di Kota Mengapa Tidak?

Menurut Naning S.A. Adiwoso, Chairwoman Green Bulding Council Indonesia (GBCI), pertam bahan penduduk dan makin nyatanya dampak pemanasan global mendorong pemikiran terkait kesehatan (wellness). Me nuju era kesehatan pada 2020, kata nya, “Kita harus mengubah cara berpikir bahwa lansekap urban bukan hanya me ngenai tanaman hijau atau keindahan te ta pi juga memiliki dampak terhadap kesehatan.” Banyaknya generasi milenial tinggal di apartemen menuntut kehadiran taman yang interaktif, menyehatkan, dan mengem balikan manfaat ekologi.

Selain itu, urbanscape (lansekap perkotaan) juga ber peran menciptakan ketahanan pangan se iring kenaikan populasi manusia yang tidak diimbangi peningkatan sumber pangan. Di sisi lain, “Isu food waste (limbah ma kanan) menjadi masalah yang perlu dipe cahkan. Keberadaan urbanscape bisa mem berikan solusi melalui urban farming atau pertanian kota,” papar Naning pada Pre launching Expo Urbanscape & Greenery 2018 di Jakarta, Rabu (17/01).

Pengembangan kota hijau lewat urban farming, ulas Iwan Suprijanto, sesuai Un dang-undang No. 26/2007 tentang Pe na taan Ruang. “Khususnya, terkait peme nuhan ruang terbuka hijau dan perwujud an ruang kota yang berkelanjutan,” jelas Di rektur Bina Penataan Bangunan, Ditjen Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum & Perumahan Rakyat (Kemen-PUPR) itu.

Urban Farming

Anggia Murni, Chairwoman Indonesia Landscape Industry Network (ILINET) me nu turkan, urban farming ialah upaya men dekatkan makanan dari lahan pertanian ke meja makan. “Urban farming juga ma suk dalam bagian landscape design.

Kedepannya tanaman di landscape tidak hanya sebagai tanaman hias, kita sudah mulai ma suk ke food sustainability (keberlanjut an pangan),” ujarnya. Urban farming di Indonesia tumbuh pe sat dengan dorongan utama keinginan hi dup sehat.

“Kalau tanam sendiri, dia tahu takaran chemical-nya. Dengan menanam sendiri, kualitasnya mesti bagus,” imbuh perempuan yang disapa Murni ini sambil menyebut urban farming mulai marak pada 2000. Saat ini urban farming makin berkembang karena didukung ketersedia an sarana produksi, se perti pipa tanam dan irigasi, pupuk, hingga benih. Sementara itu, tetang ga kita, Singapura, te ngah menambah luas areal hijau sampai 100 ha pada 2030, di antaranya melalui urban farming. “Roof garden di Singa pu ra itu sudah rencana, mi salnya di apartemen ini mereka nanam sayuran tertentu, apartemen lain nanam sayuran tertentu sehingga mereka bisa bertukar,” ulasnya. Menurut Iwan, pertani an perkotaan bisa diwu judkan.

Pertanian mo dern itu pun bisa dilakukan di dalam atau luar ruang menggunakan sis tem hidroponik, akua ponik, hingga berkonsep green house (rumah kaca) dan roof garden (pertanian di atap bangunan). “Di Kemen-PUPR (Jakarta) sudah dibuat tanam belimbing di atap,” lanjutnya.

Roof garden di Basuki Building, Jakarta, tampak asri dengan berbagai rupa sayuran dan tanaman hias. Roof garden, menurut Murni, mampu menambah 30% ruang terbuka hijau (RTH) di Jakarta. Untuk membangun ke sa daran RTH, Murni dan Naning sepakat harus ada perintah membangun apartemen hijau menggunakan tanaman perta nian yang dibutuhkan sehari-hari.

“Mari kita galakkan Jakarta akan mandatori roof garden. Semoga bisa terjadi seperti Si nga pura mandatori roof garden,” tegasnya.

Berbagai Inovasi

Implementasi urban farming di atap, te rang Murni, perlu inovasi baru berupa peng airan dengan sistem irigasi tetes su paya hemat air. “Dulu roof garden harus pa kai ijuk dan batu apung yang tidak sustain. Sekarang kita sudah punya drained system. Sehingga dengan lapisan tipis, kita bisa me lindungi atap dari kebocoran air,” urainya. Menggunakan inovasi akan menghemat biaya pemakaian air dan tenaga kerja.

Urban farming juga bisa memanfaatkan tek nologi seperti padi SRI dengan irigasi tetes dan penyiraman otomatis menerapkan aplikasi Siramin yang dikembangkan UGM. Penempatan tanaman di dalam ruang tidak boleh mengganggu jalur evakuasi atau jalan agar tidak membuat orang ter sandung saat melangkah. “Kita harus tahu letak pot di tempat tertentu sehingga tidak mengganggu jalur evakuasi.

Safety and security tetap diperhatikan,” pende sain roof garden di gedung parkir Bandara Ngurah Rai, Bali itu mengingatkan. Rita Yusnita, pengelola roof garden milik PT Basuki Engineering Pratama di Basuki Building menjelaskan, merancang perta ni an rooftopharus memperhatikan konstruksi bangunan dan rangka atau tulang gedung agar tidak kelebihan beban.

“Gedung ini sudah tua jadi tanamannya nggak terlalu penuh biar nggak kelebihan beban. Habis turun hujan, airnya juga langsung dibersih kan biar nggak menggenang dan merem bes ke bawah,” paparnya kepada AGRINA. Untuk merancang urbanscape, saran Naning, sebaiknya memperhatikan sumber tanaman yang digunakan apakah dari nurseri atau petani. “Bila tanaman diambil dari rumah petani di pedesaan, perlu diperhatikan pula pengetahuan mereka mengenai persemaian dan buda ya hortikultura.

Bila tidak memiliki perhatian yang mencukupi, maka kelestarian ragam tanaman akan terancam. Perlu penyediaan tanaman dan bahan penun jang yang menjaga kelestarian alam. Dan juga membuat persemaian secara baik dan benar,” jelasnya mendetail. Jenis tanaman yang marak dibudidaya kan pada urban farming kebanyakan sayuran dan buah yang berumur pendek.

Diantaranya, selada, bayam, sawi hijau, kangkung, cabai, tomat, labu madu, semangka, hingga melon.

Media Tanam dan Pemupukan

Untuk media tanam urban farming, Bayu Apriyanto, R&D PT Humat Agro Lestari men jabarkan, dapat menggunakan Humatani Grow, media tanam yang mengandung bahan organik berkualitas dan di per kaya asam humat. Media tanam ini cocok buat aplikasi roof garden karena ringan.

Penggunaannya dicampur tanah sebagai pere kat. “Itu bagus untuk germination (perke cambahan). Sebelumnya disemai dulu kemudian dipindahkan ke tanah dengan perbandingan satu tanah biasa dan satu Humatani Grow, atau 1:2,” ungkap Bayu. Perawatan tanamnya, sambung A.M. Cahyadi Kurniawan, Research Supervisor PT Humat, cukup dengan menyemprot air untuk fase perkecambahan. Sepekan se telah pindah tanam ke tanah, semprotkan asam humat ke tanah.

“Yang hobi tanam anggur dan buah tin, bisa langsung pakai media tanam Humatani Grow. Nggak per lu dicampur de ngan tanah lain lagi,” kata Adi, sapaannya. Asam humat, Lis minto, R&D Direc tor PT Hu mat men jelas kan, ada lah pem be nah ta nah organik. “Asam humat me ngandung karbon organik. Kita beri kan ke tanah, maka tanah itu ada tam bahan karbon.

Selain, pembenah tanah juga untuk coating fertilizer, seperti urea dan NPK. Coating fertilizertujuan lain nya adalah untuk efisiensi nutrien, me ngurangi kehilangan nutrien,” katanya. Jika hanya diberikan pupuk sintetis, ta nah akan sakit. Menurut Lisminto, tanah sakit lantaran berkurangnya mikroba dan berkurangnya kapasitas tukar kation. “Sa lah satu perbaikannya dengan asam hu mat,” sarannya.

Christopher Brian, Direktur Basuki mengulas, asam humat juga membantu memper halus partikel pupuk dan membuka pori pori akar sehingga penyerapan nutrisi lebih mudah serta banyak. “Di hi dro ponik ‘kan nggak ada tanahnya. Se dang kan, tum buhan perlu mikroorganisme untuk serap nutrisi, sudah diolah ba ru dikasih ke tanam an. Jadi gunanya ini pertama, nutrisi AB mix itu jadi lebih ha lus. Kedua membuka pori pori akar.

Si akar bisa langsung nangkap (unsur) ma kro-mikro nya. Kalau di tanah dibantu sa ma mikorrhi za. Plus, membantu unsur makro-mikro le bih kecil, lebih halus, bisa keserap,” bebernya. Chris merasakan langsung manfaat asam humat. “Saya sudah buktikan. Di daerah industri bisa nanam, urban farm ing juga bisa. Sekarang ‘kan era industri, polusinya banyak, bisa tumbuh. Sampai kita jualin hasilnya,” ungkapnya.

Di lapang, Chris mewanti-wanti, banyak beredar asam humat palsu. “Humic acid (asam humat) ciri yang paling penting ha rus larut dalam air tanpa diaduk. Kalau nggak larut, bagaimana mau diserap ta nah? Dia harus water soluble,” imbuhnya. Pemakaian asam humat dalam bentuk cairan sekitar 20-45 lt/ha, sedangkan ben tuk bubuk berkisar 2,5-5 kg/ha.

Aplikasinya mudah, dibuat larutan dulu, lalu di semprotkan dengan sprayer atau dima sukkan dalam sprinkler. Atau bila air ter batas, cukup ditaburkan. Asam humat ini tidak memiliki masa kedaluwarsa.