Categories
Agraria

Teknologi Demi Pangan Berkelanjutan

Perubahan iklim dan serangan hama penyakit masih menjadi tantangan bagi sektor pertanian. Di sisi lain, negara-negara Asia Tenggara dituntut untuk tetap mam pu menyediakan pangan bagi warganya.

Categories
Agraria

Solusi Wabah Myo di Pantai Barat Sumatera

Budidaya udang vaname di pantai ba rat Sumatera, khususnya di Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung dan Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu baru berjalan sekitar dua tahun. Namun setahun terakhir petambak mulai menghadapi wabah penyakit Infectious Myo necrosis Virus (IMNV/myo).

Untuk mencari solusi masalah itu, para pemangku kepentingan menggelar seminar budidaya udang berwawasan lingkungan dan bebas IMNV/myo di Bin tuhan, ibukota Kabu paten Kaur, baru-baru ini. Seminar ini terlaksana atas kerja sama Ikatan Petambak Pantai Barat Sumatera (IPPBS) dengan Dinas Perikanan Kaur dan Forum Komu nikasi Praktisi Aquakultur (FKPA).

Ketua IPPBS Agusri Sya rief dalam pengantar seminar melapor kan, tahun ini banyak budidaya udang di Pe sisir Barat dan Bintuhan gagal panen akibat terserang penyakit myo. Karena itu Ketua III Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) pusat ini mengimbau para pembudidaya untuk bersinergi mencari solusi agar budidaya udang di pantai barat Sumatera kembali pulih.

Ia pun meminta mereka mene rapkan budidaya yang ramah lingkungan dengan membangun tandon untuk peng olahan air dan instalasi pengolahan limbah.

Studi Epidomiologi

Pada awal pemaparannya, Sarwana, Head of Technical Support PT Suri Tani Pemuka (STP) mengatakan, begitu budidaya udang di Bintuhan dan Pesisir Barat bermasalah, Tim Shrimp Health STP turun melakukan studi epidomiologi IMNV. Menurut Narendra Santika Hartana, Shrimp Health Sub Section Head PT STP di Bintuhan dan Pesisir Barat, hasil studi itu menunjukkan, kasus IMNV umumnya mun cul pada umur tengah dan akhir budi daya dengan gejala klinis ekor merah dan massa putih seperti kapas di otot udang.

Penyakit muncul saat suspensi di kolam naik dan kecerahan air menurun secara tiba-tiba. Selanjutnya akan diikuti kematian secara perlahan. “Tapi akhir-akhir ini tingkat kematian menjadi lebih cepat,” ujar Narendra. Tim juga menemukan dua faktor yang pemicu merebaknya IMNV. Pertama, faktor eksternal berupa kondisi perairan dan adanya inang pembawa berupa udang-udangan. Kedua, faktor internal adalah induk yang menghasilkan benur berkualitas kurang baik sehingga kekebalan terhadap penyakit rendah serta manajemen kolam kurang baik pula.

Riwayat penyakit itu mula-mula ada petambak yang kolamnya terserang IMNV. Sampel diambil dua hari setelah wabah. Hasil pemeriksaan menemukan double stranded RNA virus (dsRNA), ukuran kecil, massa hidup di luar inang belum diketahui (OIE). Gejala klinis berupa nekrosis di otot lurik (berupa massa putih/ngapas) dan warna ekor kemerahan. Pemicunya perubahan salinitas, suhu, kece rahan secara drastis dan pening katan suspensi kasar atau stres karena proses sipon yang kurang baik.

Pada kolam terkena wabah IMNV terjadi kematian massal yang menyebabkan SR akhir tinggal 52% dengan gejala awal ngapas di otot lurik. Wilayah yang disurvei termasuk dalam zona merah berupa endemis IMNV dan berada di perairan teluk. Tim juga menemukan adanya ko loni vibrio hijau pada udang dalam kondisi lemah di kolam budidaya.

Jaga Kualitas Air

Sementara itu, Agus Suryawinadi, Head of Shrimp Culture Operation PT Matahari Sakti juga menegaskan dua faktor penyebab meningkatnya virulensi patogen di Bintuhan dan Pesisir Barat.

Faktor eksternal mencakup pencemaran atau penerapan sistem budidaya yang tidak ramah lingkungan. Lalu perubahan iklim dan cuaca ekstrem yang berefek terhadap stabilitas ekosistem air laut dan kolam budidaya. Sementara faktor internal berupa manajemen yang jelek. Di antaranya, lokasi tambak, desain, dan kons truksi tambak tidak sesuai dengan konsep budidaya yang diterapkan. Dan yang paling parah, tegas Agus, air laut langsung dimasukkan ke kolam tanpa filterisasi dan sterilisasi yang ketat.

Begitu pula pembuangan limbah langsung dialirkan ke laut. Khusus di Pesisir Barat, menurut Agus, udang sakit menunjukkan kulitnya tipis karena overmoulting (soft shell syndrome atau cangkang lunak) yang terjadi pada sistem dengan dominasi bioflok berukuran besar/kasar, pH air rata-rata di bawah 7,6 dengan konsentrasi gas CO2 > 15 ppm. “Siklus moulting yang terjadi pada bulan purnama dan bulan gelap memperparah kondisi soft shell syndrome,” ulasnya.

Untuk mengatasi kondisi cangkang lunak, Agus merekomendasi kan perbaikan pH air dengan meng hentikan sementara probiotik dan CaCO3. Lalu meningkatkan oksigen terlarut (Dissolved Oxygen/DO) dan pemberian Ca(OH)2 pada malam hari untuk menaikkan pH serta pemberian mineral dan CaO2.

“Tentang sindrom ngapas, sporulasi protozoa menyebabkan nekrosis pada tubuh udang (ngapas putih) dan di ikuti vibriosis (ngapas merah) pada saat terjadi blooming Vibrio sp. Ini terjadi pada air dengan bahan organik tinggi,” urainya. Munculnya IMNV, lanjut Agus, ditandai dengan indikasi kenaikan bahan organik dalam air yang menurunkan kadar DO dan mendorong terjadinya proses bacterial loop, dengan terbentuknya flok bakteri kasar kasat mata di dalam air kolam.

Pembentukan flok kasar tersebut melibatkan absorpsi kation-kation dalam air baik dari kation makro (Ca, Mg) dan kation mikro (Fe, Mn, Mo, Cr, Co, Zn, Se). Berkurangnya kation di dalam air kolam juga menyebabkan perlambatan pertumbuhan udang dan menaikkan frekuensi gagal moulting pada saat bulan gelap dan bulan purnama. “Ini dapat menjadi trigger (pemicu) IMNV atau WFD (White Feces Disease),” ia mengingatkan.

Begitu juga konsentrasi nitrit dan fosfat yang mencapai 5 ppm dapat menjadi pemicu kematian udang karena IMNV dengan tingkat serangan yang kronis. Untuk mencegah IMNV, Agus merekomendasikan perbaikan lingkungan mikro dengan menjaga kualitas air sesuai patokan yang dianjurkan.

Categories
Agraria

Peresmian Gedung Baru R&D PT Syngenta Indonesia

PT Syngenta Indonesia memiliki departemen penelitian dan pengembangan (Research and Development-R&D) yang dibangun di Cikampek, Karawang, Jawa Barat. Fasilitas yang dibangun sejak 1980 itu berada di area seluas 14,5 ha dengan total luas bangunan sekitar 1.500 m2. Perusahaan yang bergerak di bidang agrokimia ini baru saja meremajakan fasilitas gedung utama dan laboratorium R&D-nya. “Kami akan terus m e m b e r i k a n teknologi terbaik. Salah satu wujud nyata komitmen kami adalah de – ngan peremajaan gedung dan peluncuran produk herbisida baru kami hari ini,” papar Alex pada acara peresmian gedung baru tersebut (14/3). Di gedung baru, Syngenta menambah fasilitas laboratorium insektisida melengkapi komponen Environment, Health, and Safety (EHS), dan investasi fasilitas Tracks Sprayer. Instrumen baru ini untuk menguji dosis aplikasi insektisida merupakan alat uji coba aplikasi akurat untuk jumlah dosis kimia yang sangat kecil. Perangkat ini hanya ada tiga unit di dunia. “Tracks Sprayer di laboratorium R&D Syngenta di Cikampek merupakan yang pertama di Indonesia, bahkan di Asia Pasifik,” ungkap Parveen dengan bangga.

Categories
Agraria

Fetti Fadliah Sukses Diet Keto

Memiliki tubuh ideal merupakan idaman setiap wanita. Tidak terkecuali bagi Fetti Fadliah, Public Relations Manager PT Frisian Flag Indonesia. Wanita yang berat badannya sempat menyentuh angka 80 kg itu bergabung dengan komunitas diet terkini, diet keto. “Aku sudah coba diet yang lain tapi tidak berhasil.

Dan karena diet keto lagi tren, ya ikutan coba aja,” ceritanya saat berbincang dengan AGRINA di titik pengumpulan susu Wanasari, Pangalengan, Bandung Selatan, Jawa Barat (25/1). Selain diet keto, wanita berambut hitam itu juga rutin berolahraga. “Aku jogging sekitar 45 menit sampai 1 jam per hari,” terangnya. Lima hari dalam seminggu, Fetti selalu menyempatkan lari pagi dengan jarak 1-2 km.

Menurut Fetti, lari pagilah yang sangat membantu keberhasilan dietnya. Diet ketogenik yang dibarengi dengan olah raga itu kini sudah memasuki bulan ke-4. Berat badannya sudah berkurang hingga 12 kg. Hingga 2,5 bulan ke depan, ia menargetkan berat badannya turun hingga 63 kg.

“Paling tidak, sampai aku bisa pakai baju-baju seperti waktu belum nikah dulu,” ujarnya sambil terkikik.

Categories
Agraria

Arief Daryanto: Keluarlah dari Paradigma Komoditas

Demikian optimisme Arief Daryan to, pendiri, direktur, dan kini do sen senior Sekolah Bisnis dan Pro gram Pascasarjana Manajemen dan Bisnis IPB, Bogor, tentang masa depan agribisnis In donesia 2018. Banyak hal diungkap kan nya dalam perbincangan dengan Peni Sari Palupi dan Selo Sumarsono dari AGRINA, mulai dari evaluasi kondisi agri bisnis sepanjang 2017, kebijakan peme rin tah terkait komoditas pertanian, hingga apa yang mesti dilakukan para pelaku usaha untuk memenangkan persaingan.

Berikut petikan wawancara dengan pe me gang gelar Ph.D. dari School of Eco no mics Studies, University of New England, Armidale, Australia dan tengah mendapat kehormatan sebagai Adjunct Professor di Business School almamaternya itu, di kantornya penghujung Desember silam.

Bagaimana evaluasi Anda tentang agribisnis Indonesia 2017?

Sekarang ini ada moratorium data (dua tahun terakhir Badan Pusat Statistik tidak mengeluarkan data produksi komoditas pertanian, khususnya padi, jagung, dan kedelai, Red.). Kami para agricultural eco no mist melihat paradoks.

Dikatakan kita berswasembada beras, tapi kenapa harga tinggi? Kalau jagung berlimpah, maka harga jagung (pipilan) tidak Rp3.800, tapi sekitar Rp3.200/kg. Memang, pembaruan data penting supaya kita tidak terjebak dalam diskusi ini terus menerus. Kalau dilihat kondisi 2017, terkait penja ga an inflasi, upaya pemerintah tercapai, walau pun dengan menimbulkan kega duh an.

Tiba-tiba harga beras naik tinggi ka rena produksinya memang tidak tinggi. Harga gabah sampai mencapai Rp6.000/ kg. Harga beras medium Rp11.000/kg, se mentara harga beras premium dipatok se gitu (Rp12.800/kg untuk Jawa, Lampung, Sumatera Selatan), mana ada insentif un tuk mengolah? Itu semata political driven. Sayang prestasi pemerintah tersebut belum tertransmisikan ke kesejahteraan petani. Nilai Tukar Petani (NTP) berge raknya tidak signifikan.

Kalau kita lihat proporsi penduduk miskin tidak bergerak juga, kalau pun bergerak naik, cuma sedikit. Lalu, gini ra tio (ukuran ketimpang an ekonomi) juga tidak terlalu banyak bergerak. Menurun sedikit.

Apa saja yang Anda lihat?

Saat ini stok komodi tas dunia banyak. Harga minyak rendah, jadi kon versi dari minyak fosil ke biofuel juga rendah. Harga komoditas pertanian se dikit meningkat. Dalam konteks seperti ini Indonesia harus bergerak dari komoditas ke nilai tambah (value addition). Misalnya kopi, kita masih banyak ekspor dalam ben tuk biji hijau yang murah.

Coba dija di kan bubuk dengan branding. Di Star buck dengan sertifikat IG (Indikasi Geo grafis) Flores atau Bajawa, value-nya bisa meningkat 100 kali lipat. Kita juga banyak jual sawit, cokelat, dan karet dalam bentuk bahan baku. Ekspor CPO (minyak sawit mentah) nomor satu di dunia, tapi ketika dihitung value addi tion-nya kalah dengan Malaysia.

Berdasar kan nilainya, 95% masih dari CPO. Se dangkan olein, turunan lain biofuel, oleo kemikal kurang dari 5%. Strategi hilirisasi kita sudah tepat untuk meningkatkan ni lai tambah, diekspor dalam bentuk semi proses atau further derivative. Jadi keluar lah dari paradigma komoditas, harus ke produk.

Sekarang ini daya beli masyarakat me ningkat. Dengan daya beli meningkat, orang akan meninggalkan staple food yang berbasis karbohidrat menuju komo ditas bernilai tinggi. Apa itu? Sayur-ma yur, buah-buahan, susu, telur, daging, ikan.

Di semua negara terjadi shifting se per ti itu. Karena itu perlu upaya pening katan nilai tambah, selain perpindahan fokus dari makanan pokok berbasis kar bohidrat menuju komoditas yang bernilai tinggi (high values commodities). Jadi, kalau anggaran kita difokuskan ke pajale (padi, jagung, kedelai), tidak shif ting, ketika permintaan meningkat, kapa sitas produksi kita terbatas, akan terjadi impor yang luar biasa.

Impor hortikultura semakin pesat. Impor susu kita semakin besar. Impor daging kita juga semakin be sar. Harus ada upaya subsitusi impor. Pro duksi dalam negeri harus dikembangkan sesuai kebutuhan masyarakat.

Bagaimana tren konsumsi pangan masyarakat?

Jumlah penduduk kita 259 juta jiwa merupakan pasar domestik yang selalu tumbuh. Mereka mengalami pergeseran pola makan, cenderung westernisasi atau kebarat-baratan. Dulu di sepanjang Jalan Pajajaran (dekat Sekolah Bisnis IPB) hanya ada traditional food. Sekarang ada resto ran Midori, Hanamasa (Jepang), Pizza Hut, KFC dan masakan Korea.

Atribut permintaan pun bergeser ke rea dy to eat (siap makan) dan ready to cook (siap masak). Segmen industri pengolah an tumbuh pesat banget lho, di atas 20%. Contoh ayam. Dulu hanya jual ayam hi dup, sekarang ada karkas dingin dan olah an dengan porsi masih 15%. Kita lihat out let Prima Freshmart dan Quick Chicken di mana-mana karena menawarkan produk siap masak dan siap saji.

Ke depan yang 15% tadi bisa meningkat menjadi 20%. Yang 85% berkurang jadi 80%, 70% dan seterusnya. Bisa-bisa nanti ke depan pemerintah melarang perda gang an ayam hidup untuk mencegah pe nularan penyakit zoonosis seperti negaranegara maju.

Bagaimana prospek agribisnis tahun ini?

Perekonomian nasional akan tumbuh 5,2%-5,4%. Meskipun tidak semua per tum buhan ekonomi tertransmisikan ke per tumbuhan permintaan tapi tergan tung elastisitas pendapatan, agribisnis tetap akan tumbuh dan berkembang. Hanya saja komposisi produk pertanian yang ditawarkan harus berbeda.

Tahun 2018 ada Asian Games, demand akan meningkat pesat. Semua atlet dan penonton membutuhkan makanan. Lalu tahun politik, ekonom selalu bilang an cam an ekonomi tahun politik. Saya kira, itu bisa menjadi berkah karena kampanye bersama membutuhkan nasi kotak, ma kanan segala macam, itu kan sumber permintaan. Dari sisi luar, ekonomi global menggeliat dari 3,2% menjadi 3,6% pada 2017.

Amerika dengan Presiden Trump yang kebi ja kan nya cenderung Ame rica First, mem buat nilai tukar US$ naik, rupiah melemah. Kalau rupiah melemah, ekspor komo ditas tradisional kita lebih bersaing. Ekono mi kita juga terpengaruh “batuk” Tiongkok, kini Tiongkok pun tum buh tinggi karena permintaan domestik. Indeks daya saing kita naik 5 peringkat.

Ease of Doing Business kita naik 19 pe ringkat. Orang luar memandang ekonomi Indonesia sangat prospektif sehingga investasi asing langsung (FDI) naik terus. Ini menjadi momentum yang memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional.

Apa yang perlu dilakukan pelaku usaha agribisnis?

Yang jelas, harus ada cara pandang baru. Peternak unggas misalnya mau tidak mau harus meningkatkan produktivitas, efi siensi, dan kualitas produk. Caranya dengan berpindah dari kandang terbuka ke kandang tertutup atau dari kandang terbuka ke semi tertutup. Atau tetap kandang terbuka tetapi sirkulasi udaranya di perbaiki. Kualitas pakan harus lebih baik.

Peternak skala kecil sebaiknya melaku kan horizontal integration dengan sesama nya supaya mencapai skala ekonomi. Sekarang ini masih sendirisendiri sehingga biaya pokok produksi jadi tinggi. Selain perbaikan kandang dan manajemen ternak, sertai pula dengan upaya peningkatan nilai tambah di sepanjang rantai nilai, kalau perlu branding. Ini yang selama ini kurang dipikirkan, hanya bicara live bird.

Setelah itu, merambah ke food safety, biosecurity, animal welfare untuk meningkatkan daya saing dan daya tahan,. Berpikirlah beyond farming, yaitu processing dan customers. Kawan-kawan di industri unggas perlu memodernisasi industri protein hewani. Mau tidak mau harus masuk ke modern value chain karena konsumen yang pendapatannya meningkat, pasti belanja ke supermarket, hypermarket, yang sehat dan bersih.

Contoh Asep Saeful, pemilik CV Jambu Raya, itu sukses karena mau berubah menggunakan teknologi. Perusahaan juga harus mulai berpikir meningkatkan skala usaha yang lebih besar agar lebih efisien dengan kon soli dasi, integrasi vertikal untuk mening katkan efisiensi dan produktivitas. Itu untuk mengelola value addition di sepanjang rantai nilai secara lebih baik.

Semua aktor harus ditingkatkan ketram pilannya. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mesti lebih memahami karakteristik ekonomi pertanian dan ber hati-hati dalam bertindak agar tidak mengganggu iklim usaha. Selain modernisasi cold chain marketing system tadi, dalam era disruption economy, kata-kata pentingnya adalah pe ningkatan produktivitas, efisiensi, kua litas, dan kalau di luar negeri masuk ke keberlanjutan.

Categories
Agraria

Bertani di Kota Mengapa Tidak?

Menurut Naning S.A. Adiwoso, Chairwoman Green Bulding Council Indonesia (GBCI), pertam bahan penduduk dan makin nyatanya dampak pemanasan global mendorong pemikiran terkait kesehatan (wellness). Me nuju era kesehatan pada 2020, kata nya, “Kita harus mengubah cara berpikir bahwa lansekap urban bukan hanya me ngenai tanaman hijau atau keindahan te ta pi juga memiliki dampak terhadap kesehatan.” Banyaknya generasi milenial tinggal di apartemen menuntut kehadiran taman yang interaktif, menyehatkan, dan mengem balikan manfaat ekologi.

Selain itu, urbanscape (lansekap perkotaan) juga ber peran menciptakan ketahanan pangan se iring kenaikan populasi manusia yang tidak diimbangi peningkatan sumber pangan. Di sisi lain, “Isu food waste (limbah ma kanan) menjadi masalah yang perlu dipe cahkan. Keberadaan urbanscape bisa mem berikan solusi melalui urban farming atau pertanian kota,” papar Naning pada Pre launching Expo Urbanscape & Greenery 2018 di Jakarta, Rabu (17/01).

Pengembangan kota hijau lewat urban farming, ulas Iwan Suprijanto, sesuai Un dang-undang No. 26/2007 tentang Pe na taan Ruang. “Khususnya, terkait peme nuhan ruang terbuka hijau dan perwujud an ruang kota yang berkelanjutan,” jelas Di rektur Bina Penataan Bangunan, Ditjen Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum & Perumahan Rakyat (Kemen-PUPR) itu.

Urban Farming

Anggia Murni, Chairwoman Indonesia Landscape Industry Network (ILINET) me nu turkan, urban farming ialah upaya men dekatkan makanan dari lahan pertanian ke meja makan. “Urban farming juga ma suk dalam bagian landscape design.

Kedepannya tanaman di landscape tidak hanya sebagai tanaman hias, kita sudah mulai ma suk ke food sustainability (keberlanjut an pangan),” ujarnya. Urban farming di Indonesia tumbuh pe sat dengan dorongan utama keinginan hi dup sehat.

“Kalau tanam sendiri, dia tahu takaran chemical-nya. Dengan menanam sendiri, kualitasnya mesti bagus,” imbuh perempuan yang disapa Murni ini sambil menyebut urban farming mulai marak pada 2000. Saat ini urban farming makin berkembang karena didukung ketersedia an sarana produksi, se perti pipa tanam dan irigasi, pupuk, hingga benih. Sementara itu, tetang ga kita, Singapura, te ngah menambah luas areal hijau sampai 100 ha pada 2030, di antaranya melalui urban farming. “Roof garden di Singa pu ra itu sudah rencana, mi salnya di apartemen ini mereka nanam sayuran tertentu, apartemen lain nanam sayuran tertentu sehingga mereka bisa bertukar,” ulasnya. Menurut Iwan, pertani an perkotaan bisa diwu judkan.

Pertanian mo dern itu pun bisa dilakukan di dalam atau luar ruang menggunakan sis tem hidroponik, akua ponik, hingga berkonsep green house (rumah kaca) dan roof garden (pertanian di atap bangunan). “Di Kemen-PUPR (Jakarta) sudah dibuat tanam belimbing di atap,” lanjutnya.

Roof garden di Basuki Building, Jakarta, tampak asri dengan berbagai rupa sayuran dan tanaman hias. Roof garden, menurut Murni, mampu menambah 30% ruang terbuka hijau (RTH) di Jakarta. Untuk membangun ke sa daran RTH, Murni dan Naning sepakat harus ada perintah membangun apartemen hijau menggunakan tanaman perta nian yang dibutuhkan sehari-hari.

“Mari kita galakkan Jakarta akan mandatori roof garden. Semoga bisa terjadi seperti Si nga pura mandatori roof garden,” tegasnya.

Berbagai Inovasi

Implementasi urban farming di atap, te rang Murni, perlu inovasi baru berupa peng airan dengan sistem irigasi tetes su paya hemat air. “Dulu roof garden harus pa kai ijuk dan batu apung yang tidak sustain. Sekarang kita sudah punya drained system. Sehingga dengan lapisan tipis, kita bisa me lindungi atap dari kebocoran air,” urainya. Menggunakan inovasi akan menghemat biaya pemakaian air dan tenaga kerja.

Urban farming juga bisa memanfaatkan tek nologi seperti padi SRI dengan irigasi tetes dan penyiraman otomatis menerapkan aplikasi Siramin yang dikembangkan UGM. Penempatan tanaman di dalam ruang tidak boleh mengganggu jalur evakuasi atau jalan agar tidak membuat orang ter sandung saat melangkah. “Kita harus tahu letak pot di tempat tertentu sehingga tidak mengganggu jalur evakuasi.

Safety and security tetap diperhatikan,” pende sain roof garden di gedung parkir Bandara Ngurah Rai, Bali itu mengingatkan. Rita Yusnita, pengelola roof garden milik PT Basuki Engineering Pratama di Basuki Building menjelaskan, merancang perta ni an rooftopharus memperhatikan konstruksi bangunan dan rangka atau tulang gedung agar tidak kelebihan beban.

“Gedung ini sudah tua jadi tanamannya nggak terlalu penuh biar nggak kelebihan beban. Habis turun hujan, airnya juga langsung dibersih kan biar nggak menggenang dan merem bes ke bawah,” paparnya kepada AGRINA. Untuk merancang urbanscape, saran Naning, sebaiknya memperhatikan sumber tanaman yang digunakan apakah dari nurseri atau petani. “Bila tanaman diambil dari rumah petani di pedesaan, perlu diperhatikan pula pengetahuan mereka mengenai persemaian dan buda ya hortikultura.

Bila tidak memiliki perhatian yang mencukupi, maka kelestarian ragam tanaman akan terancam. Perlu penyediaan tanaman dan bahan penun jang yang menjaga kelestarian alam. Dan juga membuat persemaian secara baik dan benar,” jelasnya mendetail. Jenis tanaman yang marak dibudidaya kan pada urban farming kebanyakan sayuran dan buah yang berumur pendek.

Diantaranya, selada, bayam, sawi hijau, kangkung, cabai, tomat, labu madu, semangka, hingga melon.

Media Tanam dan Pemupukan

Untuk media tanam urban farming, Bayu Apriyanto, R&D PT Humat Agro Lestari men jabarkan, dapat menggunakan Humatani Grow, media tanam yang mengandung bahan organik berkualitas dan di per kaya asam humat. Media tanam ini cocok buat aplikasi roof garden karena ringan.

Penggunaannya dicampur tanah sebagai pere kat. “Itu bagus untuk germination (perke cambahan). Sebelumnya disemai dulu kemudian dipindahkan ke tanah dengan perbandingan satu tanah biasa dan satu Humatani Grow, atau 1:2,” ungkap Bayu. Perawatan tanamnya, sambung A.M. Cahyadi Kurniawan, Research Supervisor PT Humat, cukup dengan menyemprot air untuk fase perkecambahan. Sepekan se telah pindah tanam ke tanah, semprotkan asam humat ke tanah.

“Yang hobi tanam anggur dan buah tin, bisa langsung pakai media tanam Humatani Grow. Nggak per lu dicampur de ngan tanah lain lagi,” kata Adi, sapaannya. Asam humat, Lis minto, R&D Direc tor PT Hu mat men jelas kan, ada lah pem be nah ta nah organik. “Asam humat me ngandung karbon organik. Kita beri kan ke tanah, maka tanah itu ada tam bahan karbon.

Selain, pembenah tanah juga untuk coating fertilizer, seperti urea dan NPK. Coating fertilizertujuan lain nya adalah untuk efisiensi nutrien, me ngurangi kehilangan nutrien,” katanya. Jika hanya diberikan pupuk sintetis, ta nah akan sakit. Menurut Lisminto, tanah sakit lantaran berkurangnya mikroba dan berkurangnya kapasitas tukar kation. “Sa lah satu perbaikannya dengan asam hu mat,” sarannya.

Christopher Brian, Direktur Basuki mengulas, asam humat juga membantu memper halus partikel pupuk dan membuka pori pori akar sehingga penyerapan nutrisi lebih mudah serta banyak. “Di hi dro ponik ‘kan nggak ada tanahnya. Se dang kan, tum buhan perlu mikroorganisme untuk serap nutrisi, sudah diolah ba ru dikasih ke tanam an. Jadi gunanya ini pertama, nutrisi AB mix itu jadi lebih ha lus. Kedua membuka pori pori akar.

Si akar bisa langsung nangkap (unsur) ma kro-mikro nya. Kalau di tanah dibantu sa ma mikorrhi za. Plus, membantu unsur makro-mikro le bih kecil, lebih halus, bisa keserap,” bebernya. Chris merasakan langsung manfaat asam humat. “Saya sudah buktikan. Di daerah industri bisa nanam, urban farm ing juga bisa. Sekarang ‘kan era industri, polusinya banyak, bisa tumbuh. Sampai kita jualin hasilnya,” ungkapnya.

Di lapang, Chris mewanti-wanti, banyak beredar asam humat palsu. “Humic acid (asam humat) ciri yang paling penting ha rus larut dalam air tanpa diaduk. Kalau nggak larut, bagaimana mau diserap ta nah? Dia harus water soluble,” imbuhnya. Pemakaian asam humat dalam bentuk cairan sekitar 20-45 lt/ha, sedangkan ben tuk bubuk berkisar 2,5-5 kg/ha.

Aplikasinya mudah, dibuat larutan dulu, lalu di semprotkan dengan sprayer atau dima sukkan dalam sprinkler. Atau bila air ter batas, cukup ditaburkan. Asam humat ini tidak memiliki masa kedaluwarsa.