Categories
Blog

Kementan Kembangkan Aplikasi Tanam

Ada orang bijak bilang “the best way to predict the future is to create it” artinya cara yang baik melihat prospek masa depan dengan cara bertindak. Ini merupakan pandang orang yang berpikir positif dan proaktif. Pan dangan inilah yang setidaknya dilontarkan sejumlah pakar terkait peluang dan tangan agribisnis 2017. Pakar agribisnis Prof. Bungaran Saragih berpendapat, 2017 merupakan tahun kebangkitan agribisnis. Tanda-tandanya, ada kenaikan harga-harga komoditas, termasuk komoditas pertanian.

Memang kenaikannya belum besar sekali tapi trennya sudah kelihatan naik. Komoditas yang kita bahas pangan dan pertanian. Jadi prospeknya 2017 secara global akan lebih baik. Guru Besar Institut Pertanian Bogor ini memprediksi terpilihnya presiden baru Amerika Serikat (AS) Donald Trump akan berdampak positif bagi agribisnis Indonesia. Diperkirakan kebijakan Trump akan lebih mementingkan negerinya karena berpaham nasionalis. Kondisi ini akan menimbulkan kepercayaan baru. Investasi yang mengalir dari AS akan kembali ke AS. Kondisi ini diprediksi akan berpengaruh bagi Indonesia. Tandanya antara lain menguatnya nilai tukar dollar AS terhadap rupiah, meski tidak sampai seperti 1999. Bagi petani kondisi ini menyenangkan karena impor akan lebih sulit masuk Indonesia. Harga komoditas pertanian tinggi dan petani bisa menikmati untung lebih. Komoditas pertanian yang akan tumbuh tahun ini, menurut Bungaran, terutama hortikultura, kemudian daging ayam, sapi (meski masih impor), su su, dan gula. Sawit juga akan meningkat karena menguatnya dollar AS, maka kedelai dan jagung akan jadi lebih mahal.

Sawit jadi lebih murah pada level internasional sehingga akan memperkuat ekspor sawit dari Indonesia. Sawit akan lebih prospektif pada 2017 daripada 2016, apalagi kalau konsumsi dalam negeri lebih tinggi lagi. Dari sisi produksi komoditas pertanian nasional juga dipengaruhi iklim. Pada 2015 terjadi El Nino, kebakaran di mana-mana. Sementara pada 2016 ada La Nina. Efek El Nino produksi pertanian banyak berkurang, dengan La Nina produksi meningkat lagi. Jadi ada tren suplai produk-produk pertanian dalam negeri akan meningkat 2017 ini. Dari sisi kebijakan pemerintah melalui Kementerian Pertanian, anggaran besar-besaran digelontorkan untuk komoditas pangan Padi, Jagung, dan Kedelai (Pajale). Khusus jagung saja, pada 2016 pemerintah memfasilitasi pengembangan lahan produksi jagung sekitar 400 ribu hektar, sementara untuk 2017 luas lahan yang diberikan bantuan melonjak tajam hingga 3 juta ha. Fasilitasi yang diberikan antara lain benih, pupuk, bimbingan, peralatan dan mesin, serta pengawalan hama penyakit. Sederet prospek agribisnis tersebut juga diprediksi masih akan diwarnai sejumlah tantangan.

Dari laporan perwakilan petani di wilayah pantai utara Jawa, panen 2016 terjadi saat kemarau basah. Tanaman pa di banyak yang roboh dan hampa sehingga produksi padi turun 20%-30%. Para petani juga mengeluhkan soal infrastruktur irigasi yang banyak harus diperbaiki karena bocor. Percuma banyak bantuan benih, alat, pupuk, dan lainnya jika ketersediaan air irigasi terbatas. Target peningkatan produksipun tidak akan tercapai. Bantuan Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan) di tangan kelompok tani petani juga disayangkan banyak yang jadi mangkrak. Salah satu penyebabnya banyak petani yang belum memahami cara menggunakan dan merawat Alsintan yang baik dan benar.

Keberadaan penyuluh pertanian juga dirasakan para petani tidak banyak membantu dalam hal pendampingan. Dari sisi pembiayaan atau permodalan agribisnis ter bilang masih stagnan. Kata ahli ekonomi, perkem bangan penyaluran kredit perbankan dalam beberapa tahun terakhir mengalami perlambatan. Biasa nya industri perbankan tumbuh double digit, tetapi kini hanya sanggup bertengger di kisaran angka 6%. Itu artinya, tersedia dana menganggur yang belum tersalurkan. Sementara, ada sektor yang sangat strategis tetapi tidak bisa mengakses sumber pembiayaan itu. Ini harus dicari titik temunya. Perlu ada insentif ekonomi untuk meningkatkan posisi tawar agribisnis.