Categories
Blog

On Farm and Food Innovation Showcase 2017

Acara yang digelar Komisi Perdagangan dan Investasi Australia (Austrade), Kedutaan Besar Jerman, dan lembaga riset CSIRO ini mempertemukan pelaku usaha hulu-hilir dan penyedia teknologi untuk mendukung produksi pertanian yang efisien dan berkelajutan.

Menurut Matthew Durban dari Austrade, lokakarya pertanian ini mendiskusikan peluang dan tantangan sektor pertanian Indonesia. Ketertarikan berbisnis di sektor pertanian didorong permintaan konsumen akan tingginya kualitas, produksi tepat waktu, peningkatan produktivitas dengan menekan limbah, perbaikan sarana penyimpanan dan logistik, serta keseriusan pemerintah dalam menggerakkan ketahanan pangan dan pertanian berkelanjutan.

Thomas Schnur, Economic Section Agricultural Affairs, Kedubes Jerman, menyatakan, banyak masalah pertanian yang bisa diselesaikan menggunakan teknologi, seperti pupuk dan irigasi. “Australia dan Jerman menawarkan teknologi tepat guna untuk meningkatkan kesejahteraan petani kecil,” katanya di Jakarta, Kamis (18/5).

Di sisi hulu, Peter Cull, Director ICT International membahas teknologi pemantau kelembapan tanah. Andi Marala, Marketing and Business Development Manager for Indonesia, Rivulis Irrigation, menjelaskan teknologi dan peralatan irigasi tetes. Sementara King Hamidja dari PT Robert Bosch ‘The Yield’ menyajikan teknologi informasi data pertanian, seperti salinitas, humiditas, dan kedalaman air.

Untuk pascapanen, Wini Yularti, Marketing & Communication Manager Morelink Asia Pacific menawarkan sistem perawatan sterilisasi pangan segar tanpa bahan kimia. dan Alfi Irfan, CEO AgroSocio memaparkan pengalaman merintis kemitraan dengan petani kecil dan membangun pasar produk organik yang diekspor ke Eropa dan Timur Tengah.

APCI Dorong Patin Jadi Kosmopolit Nusantara

Industri patin lokal terus tumbuh sejak lima tahun terakhir. Sentra baru budidaya patin pun marak berkembang di Jabar dan Medan, Sumut. Sarifin menjelaskan, sentra produksi benih patin menyebar di Karangintan – Kalsel, Mandiangin – Jambi, dan terbesar di Pulau Jawa. Sedangkan produksi terbesar ada di Kalsel, Kalteng, dan Jabar.“Target produksi patin tahun ini 870 ribu ton,” kata Direktur Pakan dan Obat Ikan, Ditjen Perikanan Budidaya, KKP, itu pada Second Pangasius Round Table di Jakarta, Rabu (24/5).

Menurut Azam B. Zaidy, Sekjen Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia (APCI), patin berkembang karena didorong ketersediaan bahan baku dan adanya peningkatan konsumsi rumah tangga. “Ini dimulai dari ada yang membudidayakan dulu, seperti di Jabar. Sedangkan di Jatim ada dua pendorong, yaitu konsumsi rumah tangga dan bahan baku,” ujar Azam.

Konsumsi patin belum merata di seluruh Indonesia. APCI mendorong patin menjadi kosmopolit Nusantara layaknya lele dan nila. “Bisa dikonsumsi semua masyarakat. Tidak hanya Kalimantan, kita juga berharap di pulau lain akan banyak yang membudidayakan. Mulai dari budidaya dulu lalu dijual,” imbuhnya.

Untuk menjadi kosmopolit nusantara, patin harus tampil menawan. Misalnya, kemasan menarik, warna daging putih cerah, dan tidak bau lumpur. Upaya ini membutuhkan peran pakan berkualitas dan terjangkau sebagai komponen utama biaya produksi.

Medion Wisata Bali 2017

Medion Wisata rutin digelar setiap tahun. Pada 2017 ini, PT Medion mengajak 410 pelanggannya dari seluruh Indonesia berwisata ke Bali. Sejalan dengan tema Beautiful Adventure and Leisure in Diversity, ada dua paket wisata. Paket Adventure untuk mereka yang menyenangi tantangan, yaitu rafting di Telaga Waja dan berolahraga air di Tanjung Benoa. Pemilih paket Leasure diajak ke Bali Cultural Centre untuk belajar budaya Bali serta menonton Tarian Barong Macan dan Joged Bumbung.

Kedua paket wisata juga mengunjungi beberapa destinasi, yaitu Pasar Sukawati, Krishna dan Joger; makan malam di Pirates Dinner Cruise, ke Dream Museum Zone, dan memanjakan diri di spa.

Enuan dari Lampung dan Tjhay Ka Siak dari Kalimantan Barat, dua pelanggan Medion menyatakan, sangat senang dengan acara itu. Apalagi Tjhay belum pernah ke Bali.