Categories
Agraria

Solusi Wabah Myo di Pantai Barat Sumatera

Budidaya udang vaname di pantai ba rat Sumatera, khususnya di Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung dan Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu baru berjalan sekitar dua tahun. Namun setahun terakhir petambak mulai menghadapi wabah penyakit Infectious Myo necrosis Virus (IMNV/myo).

Untuk mencari solusi masalah itu, para pemangku kepentingan menggelar seminar budidaya udang berwawasan lingkungan dan bebas IMNV/myo di Bin tuhan, ibukota Kabu paten Kaur, baru-baru ini. Seminar ini terlaksana atas kerja sama Ikatan Petambak Pantai Barat Sumatera (IPPBS) dengan Dinas Perikanan Kaur dan Forum Komu nikasi Praktisi Aquakultur (FKPA).

Ketua IPPBS Agusri Sya rief dalam pengantar seminar melapor kan, tahun ini banyak budidaya udang di Pe sisir Barat dan Bintuhan gagal panen akibat terserang penyakit myo. Karena itu Ketua III Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) pusat ini mengimbau para pembudidaya untuk bersinergi mencari solusi agar budidaya udang di pantai barat Sumatera kembali pulih.

Ia pun meminta mereka mene rapkan budidaya yang ramah lingkungan dengan membangun tandon untuk peng olahan air dan instalasi pengolahan limbah.

Studi Epidomiologi

Pada awal pemaparannya, Sarwana, Head of Technical Support PT Suri Tani Pemuka (STP) mengatakan, begitu budidaya udang di Bintuhan dan Pesisir Barat bermasalah, Tim Shrimp Health STP turun melakukan studi epidomiologi IMNV. Menurut Narendra Santika Hartana, Shrimp Health Sub Section Head PT STP di Bintuhan dan Pesisir Barat, hasil studi itu menunjukkan, kasus IMNV umumnya mun cul pada umur tengah dan akhir budi daya dengan gejala klinis ekor merah dan massa putih seperti kapas di otot udang.

Penyakit muncul saat suspensi di kolam naik dan kecerahan air menurun secara tiba-tiba. Selanjutnya akan diikuti kematian secara perlahan. “Tapi akhir-akhir ini tingkat kematian menjadi lebih cepat,” ujar Narendra. Tim juga menemukan dua faktor yang pemicu merebaknya IMNV. Pertama, faktor eksternal berupa kondisi perairan dan adanya inang pembawa berupa udang-udangan. Kedua, faktor internal adalah induk yang menghasilkan benur berkualitas kurang baik sehingga kekebalan terhadap penyakit rendah serta manajemen kolam kurang baik pula.

Riwayat penyakit itu mula-mula ada petambak yang kolamnya terserang IMNV. Sampel diambil dua hari setelah wabah. Hasil pemeriksaan menemukan double stranded RNA virus (dsRNA), ukuran kecil, massa hidup di luar inang belum diketahui (OIE). Gejala klinis berupa nekrosis di otot lurik (berupa massa putih/ngapas) dan warna ekor kemerahan. Pemicunya perubahan salinitas, suhu, kece rahan secara drastis dan pening katan suspensi kasar atau stres karena proses sipon yang kurang baik.

Pada kolam terkena wabah IMNV terjadi kematian massal yang menyebabkan SR akhir tinggal 52% dengan gejala awal ngapas di otot lurik. Wilayah yang disurvei termasuk dalam zona merah berupa endemis IMNV dan berada di perairan teluk. Tim juga menemukan adanya ko loni vibrio hijau pada udang dalam kondisi lemah di kolam budidaya.

Jaga Kualitas Air

Sementara itu, Agus Suryawinadi, Head of Shrimp Culture Operation PT Matahari Sakti juga menegaskan dua faktor penyebab meningkatnya virulensi patogen di Bintuhan dan Pesisir Barat.

Faktor eksternal mencakup pencemaran atau penerapan sistem budidaya yang tidak ramah lingkungan. Lalu perubahan iklim dan cuaca ekstrem yang berefek terhadap stabilitas ekosistem air laut dan kolam budidaya. Sementara faktor internal berupa manajemen yang jelek. Di antaranya, lokasi tambak, desain, dan kons truksi tambak tidak sesuai dengan konsep budidaya yang diterapkan. Dan yang paling parah, tegas Agus, air laut langsung dimasukkan ke kolam tanpa filterisasi dan sterilisasi yang ketat.

Begitu pula pembuangan limbah langsung dialirkan ke laut. Khusus di Pesisir Barat, menurut Agus, udang sakit menunjukkan kulitnya tipis karena overmoulting (soft shell syndrome atau cangkang lunak) yang terjadi pada sistem dengan dominasi bioflok berukuran besar/kasar, pH air rata-rata di bawah 7,6 dengan konsentrasi gas CO2 > 15 ppm. “Siklus moulting yang terjadi pada bulan purnama dan bulan gelap memperparah kondisi soft shell syndrome,” ulasnya.

Untuk mengatasi kondisi cangkang lunak, Agus merekomendasi kan perbaikan pH air dengan meng hentikan sementara probiotik dan CaCO3. Lalu meningkatkan oksigen terlarut (Dissolved Oxygen/DO) dan pemberian Ca(OH)2 pada malam hari untuk menaikkan pH serta pemberian mineral dan CaO2.

“Tentang sindrom ngapas, sporulasi protozoa menyebabkan nekrosis pada tubuh udang (ngapas putih) dan di ikuti vibriosis (ngapas merah) pada saat terjadi blooming Vibrio sp. Ini terjadi pada air dengan bahan organik tinggi,” urainya. Munculnya IMNV, lanjut Agus, ditandai dengan indikasi kenaikan bahan organik dalam air yang menurunkan kadar DO dan mendorong terjadinya proses bacterial loop, dengan terbentuknya flok bakteri kasar kasat mata di dalam air kolam.

Pembentukan flok kasar tersebut melibatkan absorpsi kation-kation dalam air baik dari kation makro (Ca, Mg) dan kation mikro (Fe, Mn, Mo, Cr, Co, Zn, Se). Berkurangnya kation di dalam air kolam juga menyebabkan perlambatan pertumbuhan udang dan menaikkan frekuensi gagal moulting pada saat bulan gelap dan bulan purnama. “Ini dapat menjadi trigger (pemicu) IMNV atau WFD (White Feces Disease),” ia mengingatkan.

Begitu juga konsentrasi nitrit dan fosfat yang mencapai 5 ppm dapat menjadi pemicu kematian udang karena IMNV dengan tingkat serangan yang kronis. Untuk mencegah IMNV, Agus merekomendasikan perbaikan lingkungan mikro dengan menjaga kualitas air sesuai patokan yang dianjurkan.